1.1 Latar Belakang Masalah
Di zamam prasejarah,
manusia mengkomunikasikan pikiran, pengetahuan, dan gagasannya ke lingkungan
sosialnya secara verbal. Dan dalam beberapa kasus, dengan
menggunakan simbol-simbol material berupa ukiran pada batu, dinding gua, dan
lain sebagainya. Komunikasi tertulis yang mula-mula dikembangkan memungkinkan
informasi untuk disimpan dan dibaca oleh orang-orang lain diwaktu-waktu
kemudian. Penyimpanan dan pengalihan informasi melalui teknologi umumnya
berlangsung secara lamban, mahal, dan membutuhkan banyak tenaga.
Dengan ditemukannya
teknologi cetak (printing technology), informasi dapat dialihkan ke lebih
banyak orang, di wilayah yang lebih luas, dan dengan biaya yang lebih murah. Di
peralihan millennium sekarang ini, perkembangan media elektronik, mencakup
radio, televisi, dan telepon, telah memungkinkan penurunan waktu pengalihan
informasi secara dramatik.
Jarak geografis kini
tidak lagi menjadi penghalang dalam proses komunikasi dan pertukaran informasi.
Biaya penyimpanan dan pengantaran informasi secara elektronik kini telah
semakin banyak ditentukan oleh kebijakan publik, ketimbang oleh faktor-faktor
teknikal semata. Misalnya, harga pusa telepon lebih terkait dengan kebijakan
regulasi publik dari pada harga aktual yang dibutuhkannya.
Komputer-komputer
digital dan media penyimpanan informasi berskala besar dan massal telah
memungkinkan terwujudnya basis data dengan kemampuan untuk memproses dan
memanipulasi informasi. Tidak dengan informasi tertulis, data yang tersimpan
secara elektronik ini “tak tampak‘ bagi mata biasa, kecuali bagi perangkat
keras dan lunak untuk melakukan decoding (seperti komputer dengan kartu baca
magnetic).
Teknologi pemprosesan
data secara elektronik ini bersama dengan teknologi komputer digital telah menghasilkan
sebuah aliansi sinergis baru yang dikenal luas sebagai teknologi informasi atau
Teknologi Telematika. Ruang , waktu, dan biaya secara berangsur-angsur
direduksi melalui aplikasi-aplikasi tekonologi komputer, penyimpanan massal,
dan transmisi elektronikal dan optikal.
Pengontrolan
informasi dalam rangka teknologi seperti ini menjadi lebih terdistribusi
ketimbang sebelumnya. Dan peranan-peranan pemerintah, agen-agen komersial,
pengusaha-pengusaha swasta menjadi lebih mudah untuk dimengerti.
Telekomunikasi
mempunyai pengertian sebagai teknik pengiriman pesan, dari suatu tempat ke
tempat lain, dan biasanya berlangsung secara dua arah. ‘Telekomunikasi’
mencakup semua bentuk komunikasi jarak jauh, termasuk radio, telegraf/telex,
televisi, telepon, fax, dan komunikasi data melalui jaringan komputer. Sedangkan
pengertian Informatika mencakup struktur, sifat, dan interaksi dari beberapa
sistem yang dipakai untuk mengumpulkan data, memproses dan menyimpan hasil
pemprosesan data, serta menampilkannya dalam bentuk informasi.
1.2 Permasalahan Umum
Permasalahan di sektor Telematika, sebetulnya
tidak beranjak jauh dari tahun ke tahun. Persoalan yang belum teratasi terus
berkutat di seputar masih rendahnya infrastruktur jaringan telekomunikasi,
rendahnya penetrasi Internet, pasar yang masih dikuasai oleh pelaku dominan, masih
relatif rendahnya kontribusi sektor Telematika terhadap Pendapatan Nasional,
makin terbukanya entry barrier bagi produk dan jasa asing untuk masuk ke
Indonesia, sementara produk dan jasa Indonesia di bidang Telematika yang
diekspor ke luar negeri masih rendah dan seringkali tidak mampu bersaing di
pasar global, permasalahan pro dan kontra menyusul divestasi BUMN telekomunikasi,
permasalahan Struktur, Perilaku dan Kinerja industri Telematika Indonesia
terutama konsekuensi setelah berlakunya Undang – Undang Nomor 36 tahun 1999
tentang Telekomunikasi, belum adanya kerangka hukum yang mengatur tentang
cyberactivity dan cybercrime, serta belum adanya upaya serius dari pemerintah
untuk memberi perhatian sepenuhnya terhadap pemanfaatan Internet dan dampaknya.
BAB 2
SEJARAH PERKEMBANGAN TELEMATIKA
2.1 Periode Sejarah Telematika di Indonesia
Untuk di Indonesia, perkembangan telematika mengalami tiga periode
berdasarkan fenomena yang terjadi di masyarakat. Pertama
adalah periode rintisan yang berlangsung akhir tahun 1970-an sampai dengan
akhir tahun 1980-an. Periode kedua disebut pengenalan, rentang wktunya adalah
tahun 1990-an, dan yang terakhir adalah periode aplikasi,Periode ketiga ini
dimulai tahun 2000.
1.
Periode Rintisan
Aneksasi Indonesia terhadap Timor
Portugis, peristiwa Malari, Pemilu tahun 1977, pengaruh Revolusi Iran, dan
ekonomi yang baru ditata pada awal pemerintahan Orde Baru, melahirkan akhir
tahun 1970-an penuh dengan pembicaraan politik serta himpitan ekonomi.
Sementara itu sejarah telematika mulai ditegaskan dengan digariskannya arti
telematika pada tahun 1978 oleh warga Prancis.
Mulai tahun
1970-an inilah Toffler menyebutnya sebagai zaman informasi. Namun demikian,
dengan perhatian yang minim dan pasokan listrik yang terbatas, Indonesia tidak
cukup mengindahkan perkembangan telematika
Memasuki
tahun 1980-an, perubahan secara signifikan pun jauh dari harapan. Walaupun
demikian, selama satu dasawarsa, learn to use teknologi informasi, telekomunikasi,
multimedia, mulai dilakukan. Jaringan telepon, saluran televisi nasional,
stasiun radio nasional dan internasional, dan komputer mulai dikenal di
Indonesia, walaupun penggunanya masih terbatas. Kemampuan ini dilatar belakangi
oleh kepemilikan satelit dan perekonomian yang meningkat dengan diberikannya
penghargaan tentang swasembada pangan dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB)
kepada Indonesia pada tahun 1984.
Setahun
sebelumnya di Amerika Serikat, tepatnya tanggal 1 Januari 1983, internet
diluncurkan. Sejak ARPAnet (Advance Research Project Agency) dan NSFnet
(National Science Foundation) digabungkan, pertumbuhan jaringan semakin banyak,
dan pada pertengahan tahun, masyarakat mulai memandangnya sebagai internet.
Penggunaan teknologi telematika oleh masyarakt
Indonesia masih terbatas. Sarana kirim pesan seperti yang sekarang dikenal
sebagi email dalam suatu group, dirintis pada tahun 1980-an. Mailinglist
(milis) tertua di Indonesia dibuat oleh Jhhny Moningka dan Jos Lukuhay, yang
mengembangkan perangkat “pesan” berbasis “unix”, “ethernet”, pada tahun 1983,
persis bersamaan dengan berdirinya internet sebagai protokol resmi di Amerika
Serikat. Pada tahun-tahun tersebut, istilah “unix”, “email”, “PC”, “modem”,
“BBS”, “ethernet”, masih merupakan kata-kata yang sangat langka.
Periode
rintisan telematika ini merupakan masa dimana beberapa orang Indonesia belajar
menggunakan telematika, atau minimal mengetahuinya. Tahun 1980-an,
teleconference terjadwal hampir sebulan sekali di TVRI (Televisi Republik
Indonesia) yang menyajikan dialog interaktif antara Presiden Suharto di Jakarta
dengan para petani di luar jakarta, bahkan di luar pulau Jawa. Pada pihak
akademisi dan praktisi praktisi IT (Information and Technology), merekam
penggunaan internet sebagai berikut :
Menjelang
akhir tahun 1980-an, tercatat beberapa komunitas BBS, seperti Aditya (Ron
Prayitno), BEMONET (BErita MOdem NETwork), JCS (Jakarta Computer Society — Jim
Filgo), dan lain-lain. Konon, BEMONET cukup populer dan bermanfaat sebagai
penghilang stress dengan milis seperti
“JUNK/Batavia“. Di kalangan akademis, pernah ada UNInet dan Cossy. UNINET
merupakan sebuah jaringan berbasis UUCP yang konon pernah menghubungkan Dikti,
ITS, ITB, UI, UGM, UnHas, dan UT. Cossy pernah dioperasikan dengan menggunakan
X.25 dengan pihak dari Kanada. Milis yang kemudian muncul menjelang akhir tahun
1980-an ialah the Indonesian Development Studiesi (IDS) (Syracuse, 1988);
UKIndonesian (UK, 1989); INDOZNET (Australia, 1989); ISNET (1989); JANUS
(Indonesians@janus.berkeley.edu), yang saking besarnya sampai punya beberapa
geographical relayers; serta tentunya milis kontroversial seperti APAKABAR.
Jaringan
internet tersebut, terhubungkan dengan radio. Medio tahun 1980 diisi dengan
komunikasi internasional melalui kegiatan radio amatir, yang memiliki komunitas
dengan nama Amatir Radio Club (ARC) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Bermodalkan pesawat transceiver HF SSB Kenwood TS 430 dengan computer Apple II,
sekitar belasan pemuda ITB menghubungkan server BBS amatir radio seluruh dunia,
agar email dapat berjalan lancar.
2. Periode Pengenalan
Periode satu
dasawarsa ini tahun 1990-an, teknologi telematika sudah banyak digunakan dan
masyarakat mengenalnya. Jaringan radio amatir yang jangkauannya sampai ke luar
negeri marak pada awal tahun 1990. hal ini juga merupakan efek kreativitas anak
muda ketika itu, setelah dipinggirkan dari panggung politik, yang kemudian
disediakan wadah baru dan dikenal sebagai Karang Taruna. Pada sisi lain, milis
yang mulai digagas sejak tahun 1980-an, terus berkembang.
Internet
masuk ke Indonesia pada tahun 1994, dan milis adalah salah satu bagian dari
sebuah web. Penggunanya tidak terbatas pada kalangan akademisi, akan tetapi
sampai ke meja kantor. ISP (Internet Service Provider) pertama di Indonesia
adalah IPTEKnet, dan dalam tahun yang sama, beroperasi ISP komersil pertama,
yaitu INDOnet.
Dua tahun
keterbukaan informasi ini, salah satu dampaknya adalah mendorong kesadaran
politik dan usaha dagang. Hal ini juga didukung dengan hadirnya televise swasta
nasional, seperti RCTI (Rajawali Citra Televisi) dan SCTV (Surya Citra
Televisi) pada tahun 1995-1996.
Teknologi
telematika, seperti computer, internet, pager, handphone, teleconference,
siaran radio dan televise internasional – tv kabel Indonesia, mulai dikenal
oleh masyarakat Indonesia. Periode pengenalan telematika ini mengalami lonjakan
pasca kerusuhan Mei 1998.
Masa krisis
ekonomi ternyata menggairahkan telematika di Indonesia. Disaat keterbukaan yang
diusung gerakan moral reformasi, stasiun televisi yang syarat informasi seperti
kantor berita CNN dan BBC, yakni Metro TV, hadir pada tahun 1998. Sementara
itu, kapasitas hardware mengalami peningkatan, ragam teknologi software terus
menghasilkan yang baru, dan juga dilanjutkan mulai bergairahnya usaha pelayanan
komunikasi (wartel), rental computer, dan warnet (warung internet). Kebutuhan
informasi yang cepat dan gegap gempita dalam menyongsong tahun 2000, abad 21,
menarik banyak masyarakat Indonesia untuk tidak mengalami kesenjangan digital
(digital divide).
Pemerintah
yang masih sibuk dengan gejolak politik yang kemudian diteruskan dengan upaya
demokrasi pada Pemilu 1999, tidak menghasilkan suatu keputusan terkait
perkembangan telematika di Indonesia. Dunia pendidikan juga masih sibuk tambal
sulam kurikulum sebagai dampak perkembangan politik terbaru, bahkan proses
pembelajaran masih menggunakan cara-cara konvensional. Walaupun demikian, pada
tanggal 15 Juli 1999, arsip pertama milis Telematika dikirim oleh Paulus
Bambang Wirawan, yakni sebuah permulaan mailinglist internet terbesar di
Indonesia.
3. Periode
Aplikasi
Reformasi
yang banyak disalahartikan, melahirkan gejala yang serba bebas, seakan tanpa
aturan. Pembajakan software, Hp illegal, perkembangan teknologi computer,
internet, dan alat komunikasi lainnya, dapat dengann mudah diperoleh, bahkan
dipinggir jalan atau kios-kios kecil, tentunya,
dengan harga murah. Keterjangkauan
secara finansial yang ditawarkan, dan gairah dunia digital di era millennium
ini, bukan hanya mampu memperkenalkannya kepada masyarakat luas, akan tetapi
juga mulai dilaksanakan dan diaplikasikan. Pada pihak lain, semua itu dapat
berlangsung lancar, dengan tersedianya sarana transportasi, kota-kota yang
saling terhubung, dan industri telematika dalam negeri yang terus berkembang.
Awal era
millennium inilah, pemerintah Indonesia serius menaggapi perkembangan
telematika dalam bentuk keputusan politik. Kebijakan pengembangan yang sifatnya
formal “top-down” direalisasikan dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden No.
50 Tahun 2000 tentang Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKTI), dan Instruksi
Presiden No. 6 Tahun 2001 tentang Pendayagunaan Telematika. Dalam bidang yang
sama, khususnya terkait dengan pengaturan dan pelaksanaan mengenai berbagai bidang
usaha yang bergerak di sektor telematika, diatur oleh Direktorat Jendral
Aplikasi Telematika (Dirjen Aptel) yang kedudukannya berada dibawah dan
bertanggungjawab kepada Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia.
Selanjutnya, teknologi mobile phone begitu cepat
pertumbuhannya. Bukan hanya dimiliki oleh hampir seluruh lapisan masyarakat
Indonesia, fungsi yang ditawarkan terbilang canggih. Muatannya antara 1
Gigabyte, dapat berkoneksi dengan internet juga stasiun televisi, dan teleconference
melalui 3G. Teknologi komputer demikian, kini hadir dengan skala tera (1000
Gigabyte), multi processor, multislot memory, dan jaringan internet
berfasilitas wireless access point. Bahkan, pada café dan kampus tertentu, internet
dapat diakses dengan mudah dan gratis.
Terkait
dengan hal tersebut, Depkominfo mencatat bahwa :
Sepanjang tahun 2007 yang lalu, Indonesia telah
mengalami pertumbuhan 48% persen terutama di sektor sellular yang mencapai 51%
dan FWA yang mencapai 78% dari tahun sebelumnya. Selain itu, dilaporkan tingkat
kepemilikan komputer pada masyarakat juga mengalami pertumbuhan sangat
signifikan, mencapai 38.5 persen. Sedangkan angka pengguna Internet mencapai
jumlah 2 juta pemakai atau naik sebesar 23 persen dibanding tahun 2006. Tahun
2008 ini diharapkan bisa mencapai angka pengguna 2,5 juta.
Data statistik
tersebut menunjukkan aplikasi telematika cukup signifikan di Indonesia. Namun
demikian, telematika masih perlu disosialisasikan lebih intensif kepada semua
lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Pemberdayaan manusianya, baik itu aparatur
Negara ataupun non-pemerintah, harus terus ditumbuhkembangkan.
Selama
perkembangan telematika di Indonesia sekitar tiga dasawarsa belakangan ini,
membawa implikasi diberbagai bidang. Kemudahan yang disuguhkan telematika akan
meningkatkan kinerja usaha, menghemat biaya, dan memperbaiki kualitas produk.
Masyarakat juga mendapat manfaat ekonomis dan peningkatan kualitas hidup.
Peluang untuk memperoleh informasi bernuansa porno dan bentuk kekerasan
lainnya, juga dapat terealisir. Di lain pihak, segi individualis dan a-sosial
amat mungkin akan banyak menggejala di masyarakat. Walaupun demikian, masih
banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku masyarakat tertentu dan
faktor yang sama dapat berdampak lain pada lingkungan yang berbeda. (Suciptoardi,
2008)
2.2 Perkembangan Telematika di Indonesia
Peristiwa proklamasi 1945 membawa perubahan yang bagi masyarakat Indonesia,
dan sekaligus menempatkannya pada situasi krisis jati diri. Krisis ini terjadi
karena Indonesia sebagai sebuah negara belum memiliki perangkat sosial, hukum,
dan tradisi yang mapan. Situasi itu menjadi ‘bahan bakar’ bagi upaya-upaya
pembangunan karakter bangsa di tahun 50-an dan 60-an. Di awal 70-an, ketika kepemimpinan
soeharto, orientasi pembangunan bangsa digeser ke arah ekonomi, sementara
proses – proses yang dirintis sejak tahun 50-an belum mencapai tingkat
kematangan.
Dalam latar belakang sosial demikianlah telekomunikasi dan informasi, mulai
dari radio, telegrap, dan telepon, televisi, satelit telekomunikasi, hingga ke
internet dan perangkat multimedia tampil dan berkembang di Indonesia.
Perkembangan telematika penulis bagi menjadi 2 masa yaitu masa sebelum atau pra
satelit dan masa satelit.
1. Masa Pra-Satelit
-
Radio
dan Telepon
Di periode pra-satelit
(sebelum tahun 1976), perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia masih
terbatas pada bidang telepon dan radio. Radio Republik Indonesia (RRI) lahir
dengan di dorong oleh kebutuhan yang mendesak akan adanya alat perjuangan di
masa revolusi kemerdekaan tahun 1945, dengan menggunakan perangkat keras
seadanya. Dalam situasi demikian ini para pendiri RRI melangsungkan pertemuan
pada tanggal 11 September 1945 untuk merumuskan jati diri keberadaan RRI
sebagai sarana komunikasi antara pemerintah dengan rakyat, dan antara rakyat
dengan rakyat.
Sedangkan telepon pada masa itu tidak terlalu penting
sehingga anggaran pemerintah untuk membangun telekomunikasi pun masih kecil
jumlahnya. Saat itu, telepon dikelola oleh PTT (Perusahaan Telepon dan
Telegrap) saja. Sampai pergantian rezim dari Orla ke Orba di tahun 1965, RRI
merupakan operator tunggal siaran radio di Indonesia. Setelah itu bermunculan
radio – radio siaran swasta. Lima tahun kemudian muncul PP NO. 55 tahun 1970
yang mengatur tentang radio siaran non pemerintah.
Periode awal tahun 1960-an merupakan masa suram bagi
pertelekomunikasian Indonesia, para ahli teknologi masih menggeluti teknologi
sederhana dan “kuno”. Misalnya saja, PTT masih menggunakan sentral-sentral
telepon yang manual, teknik radio High Frequency ataupun saluran kawat terbuka
(Open Were Lines). Pada masa itu, banyak negara pemberi dana untuk Indonesia –
termasuk pendana untuk pengembangan telekomunikasi, menghentikan bantuannya.
Hal itu karena semakin memburuknya situasi dan kondisi ekonomi dan politi di Indonesia.
Tercatat bahwa pada masa 1960-1967, hanya Jerman saja
yang masih bersikap setia dan menaruh perhatian besar pada bidang
telekomunikasi Indonesia, dan menyediakan dana walau di masa-masa sulit
sekalipun. Ketika itu pengembangan telekomunikasi masih difokuskan pada
pengadaan sentra telepon, baik untuk komunikasi lokal maupun jarak jauh, dan
jaringan kabel. Indonesia saat itu belum memiliki satelit. Sentral telepon
beserta perlengkapan hubungan jarak jauh ini diperoleh dari Jerman. Pada saat
itu, Indonesia hanya dapat membeli produk yang sama, dari perusahaan yang sama,
yakni Perusahaan Jerman. Tidak ada pilihan lain bagi Indonesia.
Keleluasaan barulah bisa dirasakan setelah di tahun
1967/1968 mengalir pinjaman-pinjaman ke Indonesia, baik bilateral ataupun
pinjaman multilateral dari Bank Dunia, melalui pinjaman yang disepakati IGGI.
Akan tetapi, pada masa inipun inovasi dalam pemfungsian teknologi
telekomunikasi masih belum berkembang dengan baik di negeri ini. Pada dasarnya
kita memberi dan memakai perlengkapan seperti switches, cables, carries yang
sudah lazim kita pakai sebelumnya.
-
Televisi
Badan penyiaran televisi lahir tahun 1962 sebelum
adanya satelit yang semula hanya dimaksudkan sebagai perlengkapan bagi
penyelenggara Asian Games IV di Jakarta. Siaran percobaan pertama kali terjadi
pada 17 Agustus 1962 yang menyiarkan upacara peringatan kemerdekaan RI dari
Istana Merdeka melalui microwave. Dan pada tanggal 24 Agustus 1962, TVRI bisa
menyiarkan upacara pembukaan Asian Games, dan tanggal itu dinyatakan sebagai
hari jadi TVRI.
Terdorong oleh inovasi, akhirnya pada tanggal 14
November 1962 untuk pertama kalinya TVRI memberanikan diri melakukan siaran
langsung dari studio yang berukuran 9×11 meter dan tanpa akustik yang memadai.
Acaranya terbatas, hanya berupa permainan piano tunggal oleh B.J. Supriadi
dengan pengaruh acara Alex Leo.
Lebih setahun setelah siaran pertama, barulah
keberadaan TVRI dijelaskan dengan pembentukan Yayasan TVRI melalui Keppres No.
215/1963 tertanggal 20 Oktober 1963. Antara lain disebutkan bahwa TVRI menjadi
alat hubungan masyarakat (mass communication media) dalam pembangunan
mental/spiritual dan fisik daripada Bangsa dan Negara Indonesia serta
pembentukan manusia sosialis Indonesia pada khususnya. Sampai tahun 1989, TVRI
merupakan operator tunggal di bidang penyiaran televisi.
Jadi sebelum satelit palapa mengorbit, Indonesia hanya
mengenal telekomunikasi yang bersifat terestrial, yakni yang jangkauannya masih
dibatasi oleh lautan. Telekomunikasi seperti ini tidak bisa menjangkau pulau-pulau
kecuali melalui penggunaan SKKL (Saluran Komunikasi Kabel Laut) yang mahal dan
sulit dipergunakan.
2. Masa Satelit
- Satelit Domestik Palapa
Gagasan tentang peluncuran satelit bagi telekomunikasi
domestik di Indonesia bisa ditelusuri asal muasalnya dari sebuah konferensi di
Janewa tahun 1971 yang disebut WARCST (World Administrative Radio Confrence on
Space Telecomunication).
Pada konferensi itu di tampilkan pula pameran dari
perusahaan raksasa pesawat terbang Hughes. Perusahaan inilah yang mengusulkan
ide pemanfaatan satelit bagi kepentingan domestik Indonesia. Hal tersebut
disambut oleh Suhardjono yang berlatar belakang militer dan membawa masalah
satelit itu sampai ke Presiden RI.
Selain pertimbangan kelayakan ekonomi dan teknis,
sejarah peluncuran satelit ini juga diwarnai oleh kepentingan politik dimana
hubungan antara Indonesia dengan negara- negara lain sudah mulai bersahabat. Di
sisi lain, satelit memungkinkan penyebaran luas ideologi negara ke masyarakat
luas melalui TV, satelit juga menguntungkan secara ekonomi.
Komunikasi tentang cara-cara menggali sumber daya alam
dapat berlangsung dengan mudah. Ini berlaku untuk kasus tembaga pura (Freeport)
dan di Dili. Peluncuran satelit Palapa di Cape Canaveral, Florida, bulan
Agustus 1976 pada panel peluncuran terdapat 3 orang Indonesia dan perwakilan
dari perusahaan NASA dan Hughes.
Kejadian ini diresmikan juga melalui pidato kenegaraan
oleh presiden Soeharto di Jakarta, tanggal 16 Agustus 1976. ini merupakan satu-
satunya proyek teknologi yang mendapat tempat terhormat di gedung Parlemen.
Namun peluncuran satelit itu merupakan kebijakan nasional yang gagasan awalnya
dicetuskan oleh pemerintah.
Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa Indonesia
pernah mengalami ancaman perpecahan. Untuk mempersatukan tanah air yang sangat
luas ini diperlukan sarana perhubungan yang mencakup seluruh wilayah nusantara.
Proses kelahiran satelit ini hanya melibatkan sedikit teknokrat dan teknolog
yang berpihak pada kepentingan Orba.
Dampak Setelah Adanya Satelit Palapa
Dengan semakin bergantungnya Indonesia pada teknologi
satelit, munculah sejumlah perusahaan yang bergerak dalam produksi perlengkapan
terkait, seperti RFC (milik Iskandar Alisjahbana), LEN (milik Kayatmo), PT.
INTI. Setelah periode itu, aspek bisnis di dunia telekomunikasi mencuat.
Inovasi lebih banyak terjadi pada penyediaan layanan, sementara pengembangan
teknologi untuk komponen berkurang.
Pertumbuhan ekonomi yang pesat di tahun 1988 membuat
kebutuhan telekomunikasi melonjak secara drastis. Untuk memenuhi kebutuhan
telepon yang melonjak, disadari pemerintah perlunya perubahan regulasi, yang
kemudian membuahkan UU no. 3 tahun 1989 tentang pengertian telekomunikasi yang
diperluas hingga mencakup alat pengiriman data seperti faximile dan telex, dan
lain-lainnya.
Sebelum lahirnya UU ini, Telkom dan Indosat disebut
sebagai badan penyelenggara telekomunikasi yang menyediakan seluruh jejaring
dan layanan jasa. Dampak positif dari berlakunya UU tersebut adalah mulai
masuknya pihak-pihak swasta dengan modal yang besar, walaupun dalam skala usaha
yang terbatas.
Mereka datang dengan membawa teknologi baru, tenaga
ahli, manajemen yang baru. Ini semua kemudian menciptakan iklim usaha yang baru
dalam penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia. Dengan terlibatnya pihak
asing dalam pengadaan dana, teknologi dan menejemen, perkembangan teknologi
telekomunikasi berkembang dengan pesat. Hal ini terjadi sekitar tahun 1990-an
dan dampaknya terlihat mulai tahun 1991 khususnya terlihat jelas bahwa
jangkauan telekomunikasi di Indonesia menjadi bertambah luas.
Perkembangan teknologipun berkembang pesat, mulai dari
pesawat telepon manual ke otomatis, dan dari analog menjadi digital. Pada
gilirannya perkembangan ini menuntut adanya pengaturan infrastruktur dan
standarisasi peralatan. Tak lama kemudian masuklah teknologi
mobile-telecommunication.
Berkembanglah pemakaian handphone yang bardampak
tumbuhnya usaha-usaha yang tidak hanya menyediakan layanan atau jejaring saja,
melainkan juga membangun pabrik-pabrik dalam upaya pemenuhan kebutuhan akan
kabel. Menarik untuk dicatat bahwa di era serbuan bisnis telekomunikasi itu,
ternyata kaidah dan aturan bisnis professional tidak sepenuhnya diikuti.
Sementara itu faktor politik tampaknya justru
mengambil peranan penting. Kala itu terjadi campur tangan bisnis dari “Keluarga
Cendana” yang mengambil peranan sebagai mitra bisnis PT Telkom dan Indosat yang
kemudian diikuti oleh krono-kroni mereka seperti Liem Sio Liong melalui “Sinar
Mas” nya dan lain-lain. Di era emas telekomunikasi itu, tumbuh dorongan kuat
agar Bank Indonesia membuka pintunya lebar-lebar bagi pihak swasta asing.
Bahkan mereka menginginkan adanya privatisasi Telkom
dan Indosat dalam penyelenggaraannya. Dampak dari dorongan ini mencuatnya
pandangan bahwa regulasi yang ada sudah tidak memadai lagi. Di sekitar tahun
1996, mulailah disusun rencana untuk meninjau kembali UU No. 3 tahun 1989.
Beberapa hal yang diperhatikan dalam review ini adalah :
1. Perkembangan teknologi tahun 1995-1996 itu berbeda
sekali dengan di tahun 1990. ini terutama terjadi akibat konvergensi teknologi,
sebagai fungsi dari berbagai jenis jasa berubah dan timbul jasa-jasa baru yang
perlu diakomodasikan. Konvergensi teknologi bahkan memungkinkan teknologi
dipadu dengan broadcasting, sehingga timbullah telematika, teleinformatika,
teknologi informasi dan lain-lain yang menuntut kebijakan dan peraturan yang
baru.
2. Perkembangan teknologi informasi dan broadcasting
itu ternyata tidak hanya berpengaruh pada masalah politik, dalam artian berita,
tetapi juga iklan yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Lebih jauh lagi
dengan berkembangannya telebanking, telekumunikasi sebelumnya dilihat hanya
sebagai public utility, kini berubah menjad bisnis opportunity.
3. Globalisasi ekonomi menciptakan suasana kompetisi
yang semakin ketat. Ini menuntut penyelenggaraan telekomunikasi dengan kualitas
layanan yang semakin tinggi. Setelah satelit Palapa mengorbit, jangkauan
telekomunikasi Indonesia bisa meliputi seluruh nusantara, dan bahkan ke luar
wilayah nusantara. Satelit telekomunikas itu kemudian bisa dimanfaatkan bukan
untuk telepon tetapi juga untuk berbagai macam keperluan lain seperti,
pengiriman facsimile, telex, dan pengiriman berbagai informasi dalam bentuk lain
termasuk broadcasting. Setelah perkembangan itu semua terwujud, masyarakat
melihat pentingnya peranan telekomunikasi bagi kehidupan suatu bangsa.
-
Nusantara 21
Perkembangan satelit
dipacu lebih lanjut dengan diresmikannya “Nusantara 21” (N21) oleh presiden RI
pada tanggal 27 Desember 1996. Menggelindingnya N21 menjadi masukan utama untuk
pembentukan Tim koordinasi Telematika Indonesia (TKTI) melalui Kepres No. 30
tahun 1997. Tugas TKTI menurut Inpres No.6 tahun 2001 tentang pengembangan dan
Pendayagunaan Telematika di Indonesia adalah :
1.) Mengkoordinasikan perencanaan dan mempelopori
program aksi dan inisiatif untuk meningkatkan perkembangan dan pendayagunaan
teknologi telematika Indonesia serta memfasilitasi dan memantau pelaksanaannya
2.) Memperkuat kemampuan menggalang sumber daya yang
ada di Indonesia guna mendukung keberhasilan pelaksanaan semua arah
pengembangan dan pendayagunaan teknologi telematika, melaksanakan forum untuk
membangun consensus antar pihak-pihak terkait di sektor pemerintah dan swasta,
serta akses mengakses pengalaman internasional dalam mengembangkan sistem
infrastruktur infomasi nasional.
Tim ini diketuai oleh
Menko Produksi Industri Strategis (Ginanjar Kartasasmita), wakil ketua
Menparpostel, beranggotakan tujuh menteri departemen (Menkeu, Menhankam,
Menpen, Mendagri, Menperindag, Menaker, dan Mendikbud) serta lima menteri
negara (Mensesneg, Menristek, MenPAN, Menivest, Men-PPN).
Visi N21 adalah
menyediakan wahana berbasis teknologi telekomunikasi dan informatika nasional
di dalam proses transformasi bangsa Indonesia dari masyarakat tradisional
(traditional society) menjadi sebuah masyarakat yang berwawasan IPTEK dan
berbasis pengetahuan (knowledge based society).
Konsep N21 merupakan jawaban atas tantangan
globalisasi komunikasi dan informasi berupa jaringan komunikasi terpadu. N21
menggunakan kerangka pendekatan, antara lain (a) Memanfaatkan semua teknologi
yang dapat mendukung pembangunan di semua sektor dan (b) membentuk suatu
jaringan maya informasi atau adi marga informasi (virtual information network
atau anformation superhighway) yang menghubungkan seluruh pelosok tanah air.
Dengan
dikembangkannya N21 maka pada tahun 2000 atau memasuki abad 21 seluruh
kecamatan di Indonesia akan mempunyai akses ke semua teknologi komunikasi dan
computer (K-2) dalam suatu jaringan terpadu yang didukung oleh 11 sistem
satelit komunikasi. Sekarang ini baru ada tiga sistem satelit yang beroperasi,
yaitu PSN dengan Palapa 1. Telkom dengan Palapa B4 dan B 2R, dan satelindo
dengan Palapa C 1 dan C 2. Pengembangan infrastruktur fisik mengandung tiga
kemungkinan penggunaan, yaitu : (1) Adiguna Marga Kepulauan (Archipelagic Super
Highway), (2) Kota Multimedia (Multimedia Cities); dan (3) Nusantara Multimedia
Community Acces Centers (Pusat Akses Masyarakat Multimedia Nusantara).
Tim Koordinasi
Telematika Nasional secara paripurna merumuskan cetak biru pengembangan
telematika yang mencakup tiga kelompok utama, yaitu infastruktur, aplikasi, dan
sumber daya.
(Darmawan, 2010)
BAB 3
TINJAUAN TEORI
3.1 Pengertian Telematika
1. Telematika berasal dari bahasa perancis “Telematique”
yang merujuk pada bertemunya sistem jaringan komunikasi dengan teknologi
informasi.
2. Teknologi Informasi merujuk pada sarana prasarana,
sistem dan metode untuk perolehan, pengiriman, penerimaan, pengolahan,
penafsiran, penyimpanan, pengorganisasian, dan penggunaan data yang bermakna.
3. Para
praktisi mengatakan bahwa TELEMATICS merupakan perpaduan dari dua kata yaitu
dari “TELECOMUNICATION” and “INFORMATICS” yang merupakan perpaduan konsep
Computing and Communication.
4. Menurut Pak Moedjiono TELEMATIKA merupakan konvergensi
dari kata :
Tele = Telekomunikasi
Ma =
Multimedia
Tika = Informatika
5. Menurut
Instruksi Presiden RI No. 6 Tahun 2001 tentang kerangka kebijakan perkembangan
dan pendayagunaan telematika di Indonesia didapat pengertian Telematika sebagai
berikut : “...........
Telekomunikasi, media dan informatika atau disingkat
sebagai teknologi telematika......”
6. Menurut Yusuf Hadi Marso(2007) telematika merupakan
sinergi teknologi telekomunikasi dan informatika untuk keperluan pemprosesan
data dengan sistem binary (digital). Telekomunikasi adalah sistemhugungan jarak
jauh yang terjalin melalui saluran kabel dan nirkabel ( gelombang suara,
elektromagnetik, dan cahaya) (Dudi, 2006)
3.2 Beberapa Istilah dalam Telematika
“Telematics is the combined use of telecommunication and
computer technology. New information
technologies, and information
and communication technologies, are synonyms for telematics”.
Telematika
adalah penggunaan gabungan telekomunikasi dan teknologi komputer. Teknologi
informasi baru, dan teknologi informasi dan komunikasi, adalah sinonim untuk telematika.
“Distance education is an educational process in which a
significant proportion of the teaching is conducted by someone removed in space
and/or time from the learner”.
Pendidikan
jarak jauh adalah proses pendidikan di mana proporsi yang signifikan dari
pengajaran yang dilakukan oleh seseorang dihapus dalam ruang dan / atau waktu
dari peserta didik.
“Open learning is an organised educational activity, based on
the use of teaching materials, in which constraints on study are minimised in
terms either of access, or of time and place, pace, method of study, or any
combination of these”.
Pembelajaran
terbuka merupakan kegiatan pendidikan terorganisir, berdasarkan penggunaan
bahan ajar, di mana kendala pada studi diminimalkan dalam hal baik akses, atau
waktu dan tempat, kecepatan, metode studi, atau kombinasi dari semuanya.
“Open and distance learning is an umbrella term covering distance education,
open learning, and the use of telematics in education”.
Terbuka
dan pembelajaran jarak jauh merupakan istilah umum yang mencakup pendidikan
jarak jauh, pembelajaran terbuka, dan penggunaan telematika dalam pendidikan.
“Computer-based learning is the use of computers in education either to
provide programs that deliver instruction, or to facilitate communication
between learner and tutor, or to enable students to have access to remote
sources of information”.
Pembelajaran berbasis
komputer adalah penggunaan komputer dalam pendidikan baik untuk menyediakan
program yang memberikan instruksi, atau untuk memfasilitasi komunikasi antara
peserta didik dan guru, atau untuk memungkinkan siswa untuk memiliki akses ke
sumber yang jauh dari informasi. (Hilary & Charlotte, 2000)
3.3 Penerapan Telematika
Beberapa
Bentuk Penerapan TELEMATIKA dalam sehari – hari diantaranya :
1.
E-goverment
E-goverment
dihadirkan dengan maksud untuk administrasi pemerintahan secara elektronik. Di
Indonesia ini, sudah ada suatu badan yang mengurusi tentang telematika, yaitu
Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKTI). TKTI mempunyai tugas
mengkoordinasikan perencanaan dan mempelopori program aksi dan inisiatif untuk
menigkatkan perkembangan dan pendayagunaan teknologi telematika di Indonesia,
serta memfasilitasi dan memantau pelaksanaannya.
Tim tersebut
memiliki beberapa terget. Salah satu targetnya adalah pelaksanaan pemerintahan
online atau e-goverment dalam bentuk situs/web internet. Dengan e-goverment,
pemerintah dapat menjalankan fungsinya melalui sarana internet yang tujuannya
adalah memberi pelayanan kepada publik secara transparan sekaligus lebih mudah,
dan dapat diakses (dibaca) oleh komputer dari mana saja.
E-goverment
juga dimaksudkan untuk peningkatan interaksi, tidak hanya antara pemerintah dan
masyarakat, tetapi juga antar sesama unsur pemerintah dalam lingkup nasional,
bahkan intrernasional. Pemerintahan tingkat provinsi sampai kabupaten kota,
telah memiliki situs online. Contohnya adalah DPR, DKI Jakarta, dan Sudin
Jaksel. Isi informasi dalam e-goverment, antara lain adalah profil wilayah atau
instansi, data statistik, surat keputusan, dan bentuk interaktif lainnya.
2).
E-commerce
Prinsip
e-commerce tetap pada transaksi jual beli. Semua proses transaksi perdagangan
dilakukan secara elektronik. Mulai dari memasang iklan pada berbagai situs atau
web, membuat pesanan atau kontrak, mentransfer uang, mengirim dokumen, sampai
membuat claim.
Luasnya wilayah e-commerce ini, bahkan dapat meliputi
perdagangan internasional, menyangkut regulasi, pengiriman perangkat lunak
(soft ware), perbankan, perpajakan, dan banyak lagi. E-commerce juga memiliki
istilah lain, yakni e-bussines. Contoh dalam kawasan ini adalah toko online,
baik itu toko buku, pabrik, kantor, dan bank (e-banking). Untuk yang disebut
terakhir, sudah banyak bank yang melakukan transaksi melalui mobile phone, ATM
(Automatic Teller Machine – Anjungan Tunai Mandiri) , bahkan membeli pulsa.
3).
E-learning
Globalisasi
telah menghasilkan pergeseran dalam dunia pendidikan, dari pendidikan tatap
muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka. Di Indonesia
sudah berkembang pendidikan terbuka dengan modul belajar jarak jauh (distance
learning) dengan media internet berbasis web atau situs.
Kenyataan tersebut dapat dimungkinkan dengan adanya
teknologi telematika, yang dapat menghubungkan guru dengan muridnya, dan
mahasiswa dengan dosennya. Melihat hasil perolehan belajar berupa nilai secara
online, mengecek jadwal kuliah, dan mengirim naskah tugas, dapat dilakukan.
Peranan web kampus atau sekolah termasuk cukup sentral
dalam kegiatan pembelajaran ini. Selain itu, web bernuansa pendidikan
non-institusi, perpustakaan online, dan interaksi dalam group, juga sangatlah
mendukung. Selain murid atau mahasiswa, portal e-learning dapat diakses oleh
siapapun yang memerlukan tanpa pandang faktor jenis usia, maupun pengalaman
pendidikan sebelumnya.
Hampir seluruh
kampus di Indonesia, dan beberapa Sekolah Menegah Atas (SMA), telah memiliki
web. Di DKI Jakarta, proses perencanaan pembelajaran dan penilaian sudah
melalui sarana internet yang dikenal sebagai Sistem Administrasi Sekolah (SAS)
DKI, dan ratusan web yang menyediakan modul-modul belajar, bahan kuliah, dan
hasil penelitian tersebar di dunia internet.
Bentuk
telematika lainnya masih banyak lagi, antara lain ada e-medicine, e-laboratory,
e-technology, e-research, dan ribuan situs yang memberikan informasi sesuai
bidangnya. Di luar berbasis web, telematika dapat berwujud hasil dari kerja
satelit, contohnya ialah GPS (Global Position System), atau sejenisnya seperti
GLONAS dan GALILEO, Google Earth, 3G, dan kini 4G, kompas digital, sistem
navigasi digital untuk angkutan laut dan udara, serta teleconference.
Pemanfaatan Telematika di Bidang Pendidikan Menurut
Miarso (2004) terdapat sejumlah pilihan alternatif pemanfaatan di bidang
pendidikan, yaitu :
1.
Perpustakaan Elektronik
Perpustakaan
yang biasanya arsip-arsip buku dengan di bantu dengan teknologi informasi dan
internet dapat dengan mudah mengubah konsep perpustakaan yang pasif menjadi
agresif dalam berinteraksi dengan penggunanya. Homepage dari The Library of
Congress merupakan salah satu perpustakaan yang terbesar di dunia. Saat ini
sebagian informasi yang ada di perpustakaan itu dapat di akses melalui
internet.
2. Surat
Elektronik (Email)
Dengan
aplikasi sederhana seperti email maka seorang dosen, pengelola, orang tua dan
mahasiswa dapat dengan mudah berhubungan. Dalam kegiatan di luar kampus
mahasiswa yang menghadapi kesulitan dapat bertanya lewat email.
3.
Ensiklopedia
Sebagian
perusahan yang menjajakan ensiklopedia saat ini telah mulai bereksperimen
menggunakan CD ROM untuk menampung ensiklopedia sehingga diharapkan
ensiklopedia di masa mendatang tidak hanya berisi tulisan dan gambar saja, tapi
juga video, audio, tulisan dan gambar, dan bahkan gerakan. Dan data informasi
yang terkandung dalam ensklopedia juga telah mulai tersedia di internet. Sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka data dan informasi yang terkandung
dalam ensiklopedi elektronik dapat diperbaharui.
4. Sistem
Distribusi Bahan Secara Elektronis ( Digital )
Dengan
adanya sistem ini maka keterlambatan serta kekurangan bahan belajar bagi warga
belajar yang tinggal di daerah terpencil dapat teratasi. Bagi para guru SD yang
mengikuti penyetaraan D2, sarana untuk mengakses program ini tidak menjadi
masalah karena mereka dapat menggunakan fasilitas yang dimiliki kantor pos yang
menyediakan jasa internet.
5.
Tele-edukasi dan Latihan Jarak Jauh dalam Cyber System
Pendidikan
dan pelatihan jarak jauh diperlukan untuk memudahkan akses serta pertukaran
data, pengalaman dan sumber daya dalam rangka peningkatan mutu dan keterampilan
professional dari SDM di Indonesia. Pada gilirannya jaringan ini diharapkan
dapat menjangkau serta dapat memobilisasikan potensi masyarakat yang lain,
termasuk dalam usaha, dalam rangka pembangunan serta kelangsungan kehidupan
ekonomi di Indonesia, baik yang bersifat pendidikan formal maupun nonformal
dalam suatu “cyber system”.
6.
Pengelolaan Sistem Informasi
Ilmu
pengetahuan tersimpan dalam berbagai bentuk dokumen yang sebagian besar
tercetak dalam bentuk buku, makalah atau laporan informasi semacam ini kecuali
sukar untuk diakses, juga memerlukan tempat penyimpanan yang luas. Beberapa
informasi telah disimpan dalam bentuk disket atau CD ROM, namun perlu
dikembangkan lebih lanjut sistem agar informasi itu mudah dikomunikasikan.
Mirip halnya dengan perpustakaan elektronik, informasi ini sifatnya lebih
dinamik (karena memuat hal-hal yang mutakhir) dapat dikelola dalam suatu
sistem.
7. Video
Teleconference
Keberadaan
teknologi ini memungkinkan siswa atau mahasiswa dari seluruh dunia untuk dapat
berkenalan, saling mengenal bangsa di dunia. Teknologi ini dapat digunakan
sebagai sarana diskusi, simulasi dan dapat digunakan untuk bermain peran pada
kegiatan pembelajaran yang berfungsi menumbuhkan kepercayaan diri dan kerjasama
yang bersifat sosial.
Banyak
faktor yang mempengaruhi dilaksanakan atau tidaknya potensi teknologi
telematika. Faktor utama, menurut Miarso (2004) adalah adanya komitmen politik
dari para pengambil kebijakan dan ketersediaan para tenaga terampil.
3.4 Fungsi Telematika
Selaras
dengan pengertian telematika sebagai sarana komuikasi jarak jauh, maka fungsi
dari Telematika antara lain :
1.
Penyampai
informasi
Telematika
digunakan sebagai penyampai informasi agar orang yang melakukan komunikasi
menjadi lebih berpengetahuan dari sebelumnya. Bertambahnya pengetahuan manusia
akan meningkatan keterampilan hidup, menambah kecerdasan, meningkatkan
kesadaran dan wawasan.
2. Sarana Kontak sosial hidup bermasyarakat
Interaksi
sosial menimbulkan kebersamaan, keakraban, dan kesatuan yang akan melahirkan
kerjasama. Telematika menjadi penghubung diantara peserta kerjasama tersebut,
walaupun mereka tersebar dimana-mana. Telematika menjembatani proses interaksi
sosial dan kerjasama sehingga menghasilkan jasa yang memiliki nilai tambah
dibanding hasil perseorangan. (Hazfaa, 2011)
BAB 4
PEMBAHASAN
4.1 Kontribusi Telematika
Kontribusi sektor Telematika kepada
Pendapatan Nasional baru mencapai 5,1% untuk tahun 2000 dan 5,8% untuk tahun
2001. Belum cukup signifikan, namun demikian aktivitas sektor ini cukup memberi
warna tersendiri dalam perekonomian nasional. Ditandai dengan mulai maraknya
sekelompok anak muda membangun bisnis 2 baru menggunakan teknologi Internet,
maka Indonesia tak ketinggalan dalam booming perdagangan elektronis /
electronic commerce (e-commerce).
Majalah
Warta Ekonomi edisi Maret 2001 mencatat ada sedikitnya 900
perusahaan
dotcom di Indonesia. Jika rata-rata setiap perusahaan menyerap 50 tenaga ahli
di bidang Telematika, maka 45.000 tenaga kerja telah teserap dalam industri
ini.
Sayangnya, seiring dengan surutnya bisnis
e-commerce karena di Indonesia dukungan terhadap infrastruktur informasi masih
relatif sedikit, banyak perusahaan dotcom Indonesia mengikuti jejak rekan
rekannya di Amerika dan Eropa, menutup usaha, atau mengurangi aktivitas bisnisnya.
4.2 Isu Telematika
Beberapa isu bisnis di bidang Telematika lain
yang mewarnai sepanjang tahun 2002 hingga pertengahan 2006 antara lain:
munculnya layanan akses Internet yang diselenggarakan oleh Telkom (Telkomnet
Instant) yang dianggap sebagai persaingan tidak sehat oleh pemilik dan
pengelola perusahaan Internet Service Provider (ISP), munculnya Telkom Flexi
yang disusul Indosat dengan StarOne, runtuhnya bisnis Voice over Internet
Protocol (VoIP), masih kuatnya pengaruh pelaku dominan dalam layanan jasa
telekomunikasi, E-Commerce dan E-Business yang tidak berkembang, mulai maraknya
implementasi e-procurement di beberapa perusahaan nasional yang membawa dampak
negatif, masih lambatnya pertumbuhan kuantitas dan kualitas egovernment, merger
operator telekomunikasi, masih kuatnya perilaku monopoli dan proteksi di tengah
perubahan pasar jasa telekomunikasi yang sudah menjadi pasar kompetitif,
interkoneksi antar operator, kode akses menyusul ditetapkannya Indosat sebagai
penyelenggara Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ), penolakan kepemilikan asing
di dalam perusahaan operator telekomunikasi, namun di sisi lain justru makin
bertambah banyak investor asing yang masuk ke Indonesia, dan yang paling akhir,
isu alokasi spetrum frekuensi dan perijinan layanan 3G, serta masih dinantinya
kebijakan tentang penggunaan Wimax.
Pembangunan sektor Telematika diyakini akan
mempengaruhi perkembangan sektor-sektor lainnya. Sebagaimana diyakini oleh
organisasi telekomunikasi dunia, ITU, yang konsisten menyatakan bahwa dengan
asumsi semua persyaratan terpenuhi, penambahan investasi di sektor
telekomunikasi sebesar 1% akan mendorong 3 pertumbuhan ekonomi nasional sebesar
3%. Hipotesis ini telah terbukti kebenarannya
di
Jepang, Korea, Kanada, Australia, negara-negara Eropa, Skandinavia, dan
lainnya.
Mereka
telah memberi perhatian besar pada sektor telekomunikasi, sehingga selain
jumlah pengguna telepon (teledensity) meningkat, terjadi pula peningkatan
pertumbuhan ekonomi.
Implikasi
sosial dari pemanfaatan Telematika belum dapat dirasakan langsung oleh kelompok
masyarakat miskin atau mereka yang berpenghasilan rendah. Hal ini dapat
dipahami karena daya beli mereka rendah. Telematika belum merupakan kebutuhan
pokok yang harus tersedia setiap hari. Dalam kondisi ini, bagi golongan miskin
tadi Telematika masih menjadi barang langka, mahal dan tidak berguna.
Manfaat
Telematika sudah dirasakan oleh golongan terpelajar, atau mereka yang berpunya.
Pada awal abad milenium ini muncul kecenderungan kuat adanya ketergantungan
terhadap informasi. Penggunaan telekomunikasi dan teknologi informasi khususnya
Internet sebagian besar dilakukan oleh kelompok masyarakat golongan menengah ke
atas. Kondisi kontradiktif dalam pemanfaatan Telematika memunculkan fenomena
yang kaya makin kaya, yang miskin makin terpuruk dan tambah miskin.
Ketidak-tanggapan penentu kebijakan publik di bidang Telematika
terhadap
fenomena umum semacam inilah yang kemudian menimbulkan jurang digital (digital
divide).
Jika kontribusi Telematika terhadap
perekonomian nasional sudah ada cara mengukurnya, tidak demikian halnya dengan
kontribusi Telematika tehadap pembangunan dan peningkatan kualitas demokrasi.
Bukti empiris menunjukkan bahwa Telematika telah banyak membantu upaya
masyarakat bangsa menuju demokrasi. Bentuk sederhana keterlibatan Telematika
dalam demokrasi antara lain penggunaan Short Message Service (SMS), Electronic
Mail (E-mail), dalam pendudukan gedung DPR/MPR oleh para aktivis mahasiswa yang
berujung pada runtuhnya rezim Orde Baru. Pengembangan lebih lanjut pemanfaatan
Telematika dalam mendukung upaya pendidikan politik dan demokrasi hanya
dibatasi oleh kemampuan manusia, bukan oleh teknologi itu sendiri. Fakta yang
cukup menarik, belum banyak partai politik yang secara khusus memberi perhatian
pada Telematika.
Baik
itu pemanfaatan sebagai sarana untuk mengelola organisasi sehingga menjadi
partai modern berbasis teknologi, maupun menggunakan isu-isu kebijakan dan
strategis di seputar Telematika yang dapat menarik simpati masyarakat luas. (Hazfaa, 2010)
4.3 Dampak Penggunaan Telematika
Berbagai
macam bentuk yang menjadi dampak penggunaan telematika merebak luas pada
masyarakat. Dampak ini akan memunculkan dan merubah pola kehidupan, bekerja,
berusaha bahkan merubah falsafah pada bidang-bidang tertentu. Dampak yang pasti
adalah akan terjadinya perubahan minat bekerja yang lebih efisien dalam arti
benefit to cost ratio, efektif dalam arti kualitas produk, jasa, dan pemerataan
distribusi produk jasa kepada masyarakat. Dampak yang akan muncul penggunaan
telematika baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu :
1. Penghematan transportasi dan bahan bakar.
2. Menghindarkan jam-jam yang tidak produktif menjadi
lebih produktif.
3. Mengembangkan konsep kegiatan tersebar secara
merata ke seluruh daerah.
4. Menyuguhkan banyak pilihan sarana telekomunikasi.
4.4 Area Kebijakan
Sekali pun kondisi kelembagaan pemerintahan
pengelola Telematika belum memadai, di sisi lain muncul berbagai inisiatif baru
yang dikembangkan oleh para pelaku usaha yang tergolong berusia muda dalam
rangka membentuk infrastruktur informasi alternatif yang meliputi aspek
aplikasi, jasa dan infrastruktur fisik. Dari sisi teknologi terdapat empat area
yang dianggap sebagai pendorong yaitu yang berkaitan
dengan
bandwidth komunikasi, teknologi peralatan elektronika, teknologi manipulasi
informasi, dan teknologi sistem pembayaran yang dikembangkan secara on-line.
Peluang yang diciptakan oleh penerapan
perdagangan elektronis (e-commerce) adalah terciptanya pasar-pasar baru, produk
dan pelayanan baru, proses-proses bisnis baru yang lebih efisien dan canggih,
serta penciptaan perusahaan-perusahaan dengan jangkauan lebih (extended
enterprise). Sedangkan kendala umumnya berkisar pada masalah bandwidth dan
kapasitas jaringan, keamanan, harga teknologi, aksesabilitas, struktur
sosial-ekonomi-demografi, kendala politik dan hukum, sensor, serta edukasi sosialisasi
masyarakat.
Perkembangan
lingkungan regulasi menunjukkan bahwa Indonesia juga telah mulai meninjau ulang
lingkungan regulasinya. Suatu kerangka regulasi baru di bidang Telematika sedang
dalam proses untuk diundangkan menyusul diskursus yang terjadi dalam dialog
antara pemerintah dan komunitas swasta. Tinjauan ulang regulasi sangat banyak
dipengaruhi oleh manfaat konvergensi Computer-Communications-Content pada
banyak industri yang terkena dampak serta resiko yang diciptakan oleh e-commerce,
seperti misalnya keabsahan dokumen elektronis dan pengaturan hak kepemilikan
intelektual (intellectual property right).
BAB 5
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
perkembangan telematika di Indonesia memiliki peran, antara lain :
1. Mengoptimalkan Proses Pembangunan
Telematika memberikan dukungan terhadap manajemen dan
pelayanan kepada masyarakat berupa sarana telekomunikasi yang memudahkan
masyarakat saling berinteraksi tanpa terhalang jarak. Dengan telematika, proses
komunikasi menjadi mudah sehingga mudah pula untuk menyebarkan informasi dari
satu daerah ke daerah lain.
2. Meningkatkan Pendapatan
Produk dan jasa teknologi telematika merupakan
komoditas yang memberikan peningkatan pendapatan bagi perseorangan, dunia usaha
bahkan negara dalam bentuk devisa hasil ekspor jasa dan produk industri
telematika.
3. Pemersatu Bangsa
Teknologi telematika mampu menyatukan bangsa melalui
pengembangan sistem informasi yang menghubungkan semua institusi dan area
dengan cepat tanpa terhalang jarak daerah masing-masing.
DAFTAR PUSTAKA
Darmawan, W. (2010, October). http://wyoeholic.wordpress.com/tag/telematika/.
Dudi, G. (2006, March). http://dgk.or.id/archives/2006/03/30/asal-mula-kata-telematika/.
Hazfaa. (2010, October). Diambil kembali dari
http://www.gudangmateri.com/2010/08/perkembangan-telematika-di-indonesia.html.
Hazfaa. (2011, October). http://hazfaa.blogspot.com/2011/10/tugas-telematika.html.
Hilary, P., & Charlotte, C. (2000). Applying New
Technologies And Cost Effective Delivery. Thematic Review : EFA 2000 ,
11.
Suciptoardi. (2008, may). http://suciptoardi.wordpress.com/2008/05/15/perkembangan-telematika-di-indonesia/.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar